Produk & Sistem
Pilih perangkat dan sistem radio komunikasi sesuai kebutuhan operasional perusahaan.
Aksesoris & Spare Parts — Aksesoris · Spare Part
Rakomindo membantu instansi pemerintah dan penyelenggara layanan publik merancang sistem radio komunikasi dua arah untuk petugas lapangan, kendaraan operasional, dan pusat kendali. Sistem dapat dibangun dengan radio konvensional, Push-to-Talk over Cellular (PoC), atau kombinasi keduanya.
Rancangannya disesuaikan dengan luas wilayah tugas, jumlah petugas, pola koordinasi antarunit, dan infrastruktur yang sudah dimiliki instansi.
Kebutuhan komunikasi sebuah OPD atau unit layanan publik biasanya berangkat dari cara petugas bekerja sehari-hari, bukan dari pilihan perangkat.
Petugas patroli, penertiban, atau tanggap darurat sering bergerak dalam kelompok dan perlu menerima arahan tanpa berhenti bekerja. Dengan push-to-talk, satu pesan dapat didengar seluruh anggota grup tanpa menelepon satu per satu.
Kendaraan dinas, mobil patroli, dan ambulans perlu tetap terhubung saat bergerak. Radio rig dapat dipasang permanen pada kendaraan operasional untuk komunikasi dengan pos atau pusat kendali.
Wilayah tugas bisa berupa satu gedung pemerintahan, satu kawasan, hingga beberapa kecamatan. Bangunan bertingkat, kontur tanah, dan jarak antarlokasi memengaruhi cara sistem dirancang agar komunikasi menjangkau area yang dibutuhkan.
Ketika beberapa tim bekerja bersamaan, posko atau pusat kendali seperti command center perlu mengetahui siapa yang sedang bertugas dan mengarahkan unit yang dibutuhkan. Kebutuhan ini menentukan apakah sistem cukup berbasis grup bicara atau memerlukan dispatcher.
Tiga pendekatan berikut paling sering dipertimbangkan. Pilihannya bergantung pada wilayah tugas dan infrastruktur yang tersedia.
Radio konvensional memakai jaringan radio yang dirancang untuk kebutuhan operasional instansi, dengan perangkat seperti HT, radio rig, base station, repeater, dan antena. Komunikasi radionya tidak memakai jaringan operator seluler.
Jangkauannya dipengaruhi desain sistem, lokasi, antena, perangkat, dan kondisi lingkungan. Penggunaan frekuensinya mengikuti ketentuan yang berlaku.
PoC memakai jaringan seluler/data untuk komunikasi push-to-talk. Pendekatan ini cocok untuk tim yang tersebar di beberapa wilayah atau sering berpindah lokasi. Jangkauan dan kualitas suaranya bergantung pada ketersediaan jaringan data di lokasi penggunaan.
Sebagian instansi menggabungkan keduanya: radio konvensional untuk area kerja utama dan PoC untuk personel yang bertugas di luar area tersebut. Kombinasi ini adalah pilihan arsitektur yang perlu dikaji sesuai kebutuhan, karena setiap jalur tetap memiliki keterbatasan.
Secara umum, sistem radio komunikasi instansi tersusun dari beberapa lapisan berikut.
Tidak semua implementasi membutuhkan seluruh lapisan tersebut. Tim kecil di satu gedung mungkin cukup dengan HT, sementara layanan dengan kendaraan dan posko di beberapa lokasi bisa memerlukan repeater atau PoC serta pusat kendali.
Susunan akhirnya dipengaruhi luas area, jumlah dan peran pengguna, jumlah kendaraan, kebutuhan pusat kendali, serta infrastruktur yang sudah tersedia.
Contoh berikut menggambarkan kebutuhan komunikasi yang umum ditemui. Konfigurasi sebenarnya ditentukan setelah kebutuhan tiap instansi dikaji.
OPD dengan petugas lapangan, seperti unit kebersihan, pertamanan, atau pengawasan, membutuhkan jalur koordinasi antara kantor dan tim di lapangan. Grup bicara dapat dibagi per bidang atau per wilayah kerja agar arahan sampai ke tim yang bersangkutan.
Saat kebakaran, banjir, atau kejadian darurat lain, posko perlu berkoordinasi dengan regu di lokasi dan kendaraan yang sedang menuju lokasi. Pemilihan perangkat perlu mempertimbangkan kebisingan dan cuaca. Ketersediaan jaringan seluler di area terdampak juga perlu menjadi pertimbangan saat menentukan arsitektur komunikasi.
Penertiban, pengamanan acara publik, pengaturan lalu lintas, dan pengawasan terminal melibatkan petugas yang tersebar serta kendaraan patroli. Komunikasi grup memudahkan koordinasi saat petugas harus bergerak mengikuti situasi.
Layanan gawat darurat seperti PSC 119 menghubungkan operator, ambulans, dan fasilitas kesehatan. Radio rig di ambulans dan komunikasi grup untuk tim medis lapangan dapat dipertimbangkan, dengan memperhatikan ketentuan penggunaan perangkat di area medis yang sensitif.
Tim perbaikan jaringan pipa, teknisi instalasi, dan petugas distribusi bekerja tersebar di wilayah layanan dan perlu terhubung dengan kantor atau ruang kendali saat menangani gangguan. Untuk kebutuhan kelistrikan, lihat solusi radio komunikasi sektor kelistrikan.
Terminal, pelabuhan, dan gedung pemerintahan melibatkan petugas keamanan, teknisi, dan pelayanan yang bekerja di area luas atau bangunan bertingkat. Di lokasi seperti ini, perencanaan cakupan di dalam gedung sama pentingnya dengan pemilihan perangkat.
Perangkat genggam untuk petugas lapangan, tersedia dalam pilihan analog maupun digital dengan band yang disesuaikan kebutuhan. Model dipilih berdasarkan kondisi kerja petugas.
Radio yang dipasang di kendaraan dinas atau digunakan sebagai base di pos dan ruang kendali.
Memperluas cakupan komunikasi radio konvensional. Kebutuhan dan penempatannya ditentukan dari hasil perencanaan area.
Antena base, antena kendaraan, dan antena repeater turut menentukan kinerja sistem radio konvensional.
Perangkat push-to-talk yang memakai jaringan seluler/data, untuk personel yang bertugas lintas lokasi.
Server untuk mengelola grup dan pengguna PoC, dengan dashboard dispatcher bagi operator di pusat kendali.
Sebelum memilih perangkat, petakan lima hal berikut. Jawabannya juga membantu penyusunan spesifikasi pengadaan.
Mulailah dari kebutuhan operasional: siapa yang mengarahkan petugas, bagaimana instruksi disampaikan, dan apakah komunikasi perlu didokumentasikan. Setelah itu baru ditentukan apakah cukup memakai radio base atau memerlukan dispatcher, misalnya dispatcher pada sistem PoC.
Rakomindo menyediakan site survey, desain sistem, instalasi, test & commissioning, maintenance, dan pelatihan pengguna. Rencanakan juga siapa yang mengelola perangkat setelah sistem berjalan.
Penggunaan spektrum frekuensi radio di Indonesia mengikuti ketentuan yang berlaku. Sistem radio konvensional dapat memerlukan Izin Stasiun Radio (ISR) sesuai penggunaannya, dan perangkat telekomunikasi perlu memenuhi ketentuan teknis serta sertifikasi.
Karena itu, aspek regulasi sebaiknya dipertimbangkan sejak tahap desain, bersamaan dengan perencanaan penggunaan frekuensi, pemilihan perangkat, dan penentuan lokasi repeater. Status sertifikasi perlu dicek untuk setiap model yang akan diadakan.
Bila sistem yang sudah berjalan akan diubah, misalnya menambah repeater atau lokasi, kesesuaiannya dengan izin yang dimiliki sebaiknya diperiksa kembali. Sistem PoC memanfaatkan jaringan operator seluler. Pastikan persyaratan yang berlaku bagi instansi Anda telah dikonfirmasi sebelum pengadaan.
Contoh berikut bersifat ilustratif. Konfigurasi sebenarnya bergantung pada hasil kajian kebutuhan dan kondisi lokasi.
Situasi: sebuah unit memiliki petugas yang bekerja di kantor dan di beberapa titik dalam satu kawasan.
Konfigurasi yang dapat dipertimbangkan: HT untuk petugas dan radio base di kantor. Bila perencanaan area menunjukkan cakupan belum memadai, repeater radio dapat ditambahkan.
Situasi: beberapa kendaraan dinas bergerak di wilayah tugas dan dikoordinasikan dari satu posko.
Konfigurasi yang dapat dipertimbangkan: radio rig di setiap kendaraan, radio base atau operator di posko, HT untuk petugas yang turun dari kendaraan, serta repeater sesuai kebutuhan cakupan.
Situasi: tim bertugas di beberapa kabupaten atau kota dan sering berpindah lokasi di area yang memiliki jaringan data.
Konfigurasi yang dapat dipertimbangkan: HT PoC dengan server dan dispatcher di pusat kendali. Kualitas komunikasi bergantung pada jaringan data di setiap lokasi; untuk area kerja utama, radio konvensional dapat dikombinasikan.
Petakan luas dan kondisi area tugas, jumlah petugas, operator, dan kendaraan, serta ketersediaan jaringan data di lokasi. Tentukan juga kebutuhan pusat kendali, rencana penggunaan frekuensi sesuai ketentuan, dan pihak yang akan mengelola perangkat. Site survey membantu memastikan desain sesuai kondisi lapangan.
Repeater dipertimbangkan ketika HT dan radio rig belum dapat menjangkau seluruh area tugas secara langsung, misalnya karena wilayah yang luas, bangunan bertingkat, atau kontur tanah. Kebutuhan, jumlah, dan lokasi repeater sebaiknya ditentukan melalui perencanaan area, karena kondisi setiap lokasi berbeda.
Radio konvensional berkomunikasi melalui jaringan radio yang dirancang untuk kebutuhan instansi, memakai frekuensi sesuai ketentuan, dan tidak memakai jaringan operator seluler. HT PoC berkomunikasi melalui jaringan seluler/data, sehingga cocok untuk tim yang tersebar, tetapi jangkauan dan kualitasnya bergantung pada ketersediaan jaringan data.
Dispatcher membantu operator di pusat kendali memantau dan mengarahkan komunikasi grup, misalnya menyampaikan instruksi kepada tim tertentu. Fitur yang tersedia bergantung pada sistem dan perangkat yang digunakan. Pada sistem PoC, dispatcher dijalankan melalui server yang mengelola grup dan pengguna.
Ya. Radio rig dapat dipasang di kendaraan dinas, mobil patroli, atau ambulans agar awak kendaraan tetap terhubung dengan posko. Untuk kendaraan yang bertugas lintas wilayah, HT PoC dapat menjadi pilihan selama jaringan data tersedia di rute yang dilalui.
Mulailah dari kondisi kerja: di dalam atau di luar ruang, tingkat kebisingan, cuaca, dan fitur yang dibutuhkan petugas. Sesuaikan juga band frekuensi dan kecocokan dengan perangkat yang sudah dimiliki instansi. Untuk repeater, lokasi dan jumlahnya ditentukan dari hasil site survey.
Recording tersedia pada sistem atau konfigurasi yang mendukung, misalnya server PoC dengan fitur perekaman suara. Apakah percakapan direkam, berapa lama disimpan, dan siapa yang dapat mengaksesnya perlu ditentukan saat perancangan sistem, sesuai kebutuhan dan kebijakan instansi.
Siapkan gambaran area operasi, jumlah petugas dan kendaraan, serta kebutuhan pusat kendali. Tim Rakomindo akan membantu memetakan pilihan sistem yang sesuai sebelum instansi Anda menentukan spesifikasi teknis pengadaan.